KLIK DAERAH,Tulungagung, – Bagi banyak warga Tulungagung, pagi hari bukan hanya soal berangkat kerja atau memulai aktivitas rumah tangga. Ada satu kebiasaan yang melekat kuat nongkrong di warung kopi sejak matahari baru naik. Suasana hangat warung sederhana dengan aroma kopi hitam yang baru diseduh seakan jadi magnet tersendiri.
Bagi banyak orang, ngopi tak lengkap tanpa ditemani rokok. Kopi dan rokok seolah menjadi dua entitas tak terpisahkan. Kolaborasi keduanya menghasilkan kenikmatan tak terperi. Sesekali nyeruput kopi, sesekali kebal-kebul. Namun, bagi orang Tulungagung, selain ngopi dan ngerokok, ada satu kegiatan wajib yang perlu dilakukan saat ngopi. Namanya nyethe.
Membuat kopi cethe butuh kesabaran dan keterampilan. Pertama, kopi diseduh sampai menghasilkan ampas yang kental dan halus. Setelah itu, ampasnya diendapkan lalu dioleskan ke batang rokok dengan alat kecil seperti sendok mungil atau jarum.
“Selain sebagai kota marmer kota ini juga bisa dibilang sebagai kota seni cethe, dan disini sudah jadi budaya setiap hari untuk warga asli setempat,” ungkap Agus , warga Tulungagung.
Tradisi nyethe merupakan kegiatan mengoleskan endapan kopi ke batang rokok. Kopi yang digunakan untuk nyethe pun tidak sembarangan, harus memakai bubuk kopi yang halus. Banyak warung di Tulungagung sengaja menjual kopi cethe. Alhasil, Tulungagung juga dikenal sebagai kota cethe.
Bagi saya, orang-orang yang nyethe adalah seniman. Hal ini membutuhkan keahlian khusus sehingga gambar yang dihasilkan pun terlihat artsy. Selain itu, nyethe juga perlu kesabaran ekstra. Jika tak sabaran seperti saya, rokok yang sudah digambari berakhir di tong sampah, bukan di mulut. Meski sebagian besar warga Tulungagung pernah ke warung kopi, tak semuanya lihai nyethe.
Tidak bisa dipungkiri, cethe menjadi daya tarik tersendiri di Tulungagung. Bagi warga luar kota, cethe adalah hal yang baru karena hanya Tulungagung yang punya tradisi ini. Pun, tak semua kedai kopi bisa dipakai untuk nyethe. Kegiatan nyethe lebih banyak dilakukan di warung kopi, bukan kafe.
Tradisi kopi cethe membuktikan bahwa dari hal sederhana seperti ampas kopi pun bisa lahir karya seni bernilai tinggi. Selain memperkaya budaya lokal, tradisi ini juga bikin banyak wisatawan penasaran untuk datang langsung ke Tulungagung dan merasakan sendiri sensasi ngopi dengan cara paling unik di Jawa Timur ini.(sw)





