KLIK DAERAH – Jembatan Lama Kota Kediri, atau yang secara historis dikenal sebagai Brug Over den Brantas te Kediri, resmi menapaki usia 157 tahun. Peringatan hari jadi salah satu jembatan besi tertua di dunia ini digelar dengan khidmat di kawasan jembatan pada Sabtu malam (14/3/2026), dihadiri langsung oleh Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati.
Dalam kesempatan ini Wali Kota yang akrab disapa Mbak Wali ini menegaskan bahwa Jembatan Lama bukan sekadar infrastruktur penghubung wilayah, melainkan saksi bisu transformasi budaya dan identitas masyarakat Kediri melintasi zaman.
”Jembatan Lama ini adalah identitas kita. Dengan statusnya sebagai Cagar Budaya Nasional dan kepemilikan Hak Kekayaan Intelektual, momentum ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak hanya mengenang sejarah, tetapi aktif merawat dan menjaga warisan ini,” tutur Vinanda Prameswati.
Dibangun dengan konstruksi besi yang ditopang tiang sekrup di dasar Sungai Brantas, jembatan ini mulai dioperasikan pada 18 Maret 1869. Sebagai perbandingan, Jembatan Brooklyn yang ikonik di New York, Amerika Serikat, baru selesai dibangun pada tahun 1883. Fakta ini menempatkan Jembatan Lama Kediri sebagai salah satu pionir jembatan konstruksi besi di dunia yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Peringatan tahun ini terasa istimewa dengan diluncurkannya Tenun Ikat Bandar bermotif Jembatan Lama. Karya apik dari perajin asal Bandar Kidul, Slamet Sugiyanto (Palugada), ini diperagakan oleh para penari dalam balutan busana yang memukau. Mbak Wali sendiri tampak mengenakan kain tenun bermotif serupa dengan warna Burgundy.
”Saya sangat mengapresiasi inovasi ini. Ini membuktikan adanya rasa cinta yang mendalam terhadap sejarah kota kita. Saya berharap motif ini bisa terus dikembangkan dan digunakan oleh lebih banyak warga Kediri,” tambah Wali Kota.
Peneliti sejarah sekaligus pemerhati cagar budaya, Imam Mubarok (Gus Barok), menekankan bahwa status cagar budaya peringkat nasional menuntut pengelolaan ketat sesuai UU No. 11 Tahun 2010. Mengingat revitalisasi besar terakhir dilakukan pada tahun 1976, Gus Barok menyebut tahun 2026 sebagai momentum krusial untuk melakukan perawatan menyeluruh.
”Sudah 50 tahun sejak pemeliharaan besar terakhir. Mengingat statusnya, setiap proses perawatan harus tetap berkonsultasi dengan Kementerian Kebudayaan maupun Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI agar nilai historisnya tetap terjaga,” tegas Gus Barok.
Peringatan HUT ke-157 ini diharapkan menjadi katalisator bagi Pemerintah Kota Kediri dan seluruh lapisan masyarakat untuk terus bersinergi dalam melestarikan aset sejarah yang telah menjadi ikon kebanggaan nasional.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama, pemotongan tumpeng, serta pergelaran seni yang menggambarkan keselarasan antara modernitas dan penghormatan terhadap sejarah.(sw)






