Tulungagung, Klik DAERAH – Tim Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Tulungagung bersama Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, serta Puskesmas Boyolangu dan Puskesmas Beji, melaksanakan Survei Epidemiologi (SE) terhadap ribuan siswa, Rabu (21/1/2026).
Survei ini dilakukan untuk menganalisis keluhan dan gejala kesehatan yang dialami siswa pasca konsumsi makanan dalam kegiatan sebelumnya, sekaligus sebagai langkah deteksi dini dan kewaspadaan kesehatan.
Pelaksanaan SE dilakukan dengan metode kuesioner berbasis barcode, di mana para siswa diminta mengisi sejumlah pertanyaan terkait keluhan yang dirasakan, riwayat konsumsi makanan, hingga perubahan bau, rasa, maupun bentuk makanan yang dikonsumsi.
“Survei ini bertujuan untuk mendata dan meminimalisir kemungkinan terburuk dari dampak konsumsi makanan kemarin. Kami berupaya mengumpulkan data sebanyak-banyaknya terkait keluhan pascakonsumsi,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung, Sony Welly Ahmadi, Rabu (21/1/2026).
Libatkan 51 Kelas, Sasar 2.000 Siswa:
Survei Epidemiologi ini menyasar seluruh siswa dari 51 kelas, dengan total sekitar 2.000 responden. Dari jumlah tersebut, tercatat sekitar 70 hingga 75 siswa tidak masuk sekolah pada hari pelaksanaan survei.
“Sebagian besar siswa sudah masuk dan secara visual tampak sehat. Namun tetap kami lakukan deteksi dini. Bagi yang masih merasa sakit, kami arahkan untuk berobat ke Puskesmas Boyolangu maupun Puskesmas Beji,” jelasnya.
Sementara itu, bagi siswa yang tidak hadir, tim tetap melakukan pendataan melalui kontak telepon, guna memastikan seluruh sasaran SE tetap terjangkau meski berada di rumah.
Belum Ada Rawat Inap, Keluhan Beragam:
Hingga saat ini, belum ditemukan kasus rawat inap akibat kejadian tersebut. Beberapa siswa sempat menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan, termasuk praktik mandiri, namun diperbolehkan pulang setelah diperiksa.
“Keluhan yang muncul beragam dan onset-nya berbeda-beda. Ada yang sudah membaik, ada pula yang masih dalam pemantauan. Bahkan ditemukan laporan bintik merah pada kulit, sehingga perlu dipastikan apakah berkaitan dengan konsumsi makanan atau penyakit lain,” tambahnya.
Tim menegaskan bahwa tidak semua siswa yang sakit dipastikan akibat konsumsi makanan, sehingga klarifikasi terus dilakukan melalui SE dan pemeriksaan lanjutan.
Kuatkan Pemeriksaan Laboratorium:
Hasil kuesioner SE nantinya akan digunakan untuk memperkuat analisis pemeriksaan laboratorium dari sampel makanan yang telah diambil sebelumnya.
“Dari data SE ini, kami bisa menarik kesimpulan arah penyebabnya, termasuk kemungkinan jenis bakteri atau faktor lain,” terangnya.
Dinas Ketahanan Pangan: Keamanan Pangan Jadi Prioritas
Sony Welly Ahmadi, menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan lintas sektor untuk memastikan keamanan pangan dan keselamatan konsumen, khususnya anak-anak sekolah.
“Kami mendukung penuh langkah Survei Epidemiologi ini. Keamanan pangan adalah prioritas utama kami. Dinas Ketahanan Pangan akan terus melakukan pengawasan, evaluasi, serta berkoordinasi dengan pihak dapur penyedia makanan agar kejadian serupa tidak terulang,” tegas Sony.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak berspekulasi, serta mempercayakan penanganan kasus ini kepada tim yang berwenang.
“Semua langkah yang dilakukan bertujuan melindungi kesehatan anak-anak. Kami berharap seluruh siswa yang sempat mengalami keluhan segera pulih dan bisa beraktivitas kembali seperti biasa,” pungkasnya.
Reporter : Agus Dmt
Editor : Edi Susanto
Usai Keracunan MBG, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Tulungagung Lakukan Survei Epidemiologi ke 2.000 Siswa SMK 3 Boyolangu





