KLIK DAERAH, Kediri – Polemik video hajatan keluarga pengusaha Sanjaya yang viral di media sosial akhirnya mendapat klarifikasi. Pihak keluarga menegaskan bahwa informasi yang beredar telah dipotong sehingga memicu kegaduhan dan persepsi negatif di tengah masyarakat.
Acara tersebut merupakan momen akad nikah sekaligus resepsi keluarga besar Sanjaya yang berlangsung khidmat dan meriah dengan dihadiri banyak tamu. Namun, potongan video yang tersebar di platform seperti TikTok dan Facebook dinilai tidak menampilkan kejadian secara utuh.
Dalam keterangannya kepada sejumlah awak media, Sanjaya menyampaikan apresiasi atas kehadiran rekan-rekan media yang hadir dalam klarifikasi tersebut. Ia menyebut ada sekitar 14 media yang mengikuti agenda tersebut.
Sanjaya menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat buruk terhadap pihak mana pun. Ia juga menyebut bahwa video yang beredar, termasuk yang melibatkan sosok bernama Rudi Gareng, telah dipotong sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda dari kejadian sebenarnya.
Terkait isu karangan bunga yang menjadi sorotan, Sanjaya mengklaim bahwa seluruh kiriman tersebut berasal dari relasi yang jelas. Ia menyebut terdapat sekitar 38 karangan bunga yang menurutnya merupakan kiriman asli dari berbagai pihak, termasuk tokoh publik seperti Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Ia juga menjelaskan bahwa kedekatannya dengan sejumlah tokoh tersebut berkaitan dengan keterlibatannya dalam kegiatan politik sebelumnya, termasuk menghadiri sejumlah agenda undangan resmi.
Menanggapi potongan video yang menampilkan dirinya berbicara dengan gaya bahasa yang dianggap kurang pantas, Sanjaya mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari kebiasaan bahasa sehari-hari yang telah lama melekat, mengingat latar belakangnya yang dekat dengan lingkungan pekerja lapangan.
“Bahasa itu sudah melekat, bukan maksud merendahkan siapa pun,” ujarnya.
Sementara itu, terkait momen dirinya mengambil mikrofon dalam acara tersebut, Sanjaya menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena adanya ketidaksesuaian lagu yang diminta oleh anaknya dengan yang diputar saat acara berlangsung. Ia mengaku telah menyampaikan permintaan tersebut dengan cara yang sopan.
Pihak keluarga juga menegaskan bahwa beberapa bagian penting dalam video, termasuk momen lain yang dinilai dapat memberikan konteks utuh, tidak ikut disebarluaskan.
Atas kejadian ini, Sanjaya mengimbau masyarakat untuk tidak langsung menarik kesimpulan dari potongan video yang beredar di media sosial. Ia meminta publik untuk melihat rekaman secara lengkap agar memperoleh gambaran yang lebih utuh.
Ia menambahkan, kritik dan perhatian publik merupakan hal yang wajar, namun ia berharap klarifikasi ini dapat meluruskan informasi yang berkembang.
“Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin,” kata Santosa Sanjaya.
Polemik ini menjadi pengingat bahwa penyebaran informasi yang tidak utuh di media sosial dapat memengaruhi persepsi publik secara luas.(sw)







