Kediri, Klik DAERAH — Rencana penerapan lima hari sekolah di Kabupaten Kediri masih dalam tahap kajian. Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri tengah menghimpun hasil kajian serta aspirasi masyarakat sebagai bahan pertimbangan sebelum kebijakan tersebut diputuskan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, mengatakan terdapat tiga alternatif yang disiapkan, yakni lima hari sekolah tidak diterapkan, langsung diterapkan, atau terlebih dahulu dilakukan uji coba.
“Nanti kami akan mengajukan alternatif-alternatif. Misalnya dari kajian dan pendapat publik, bisa diajukan alternatif pertama lima hari sekolah tidak jadi, atau langsung dilaksanakan, atau melalui uji coba,” kata Muhsin, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, ketiga opsi tersebut disusun berdasarkan hasil kajian dan pendapat publik yang telah dihimpun. Dinas Pendidikan juga melakukan survei dengan melibatkan siswa dan orang tua.
“Dari kajian dan pendapat publik kemarin kita lampirkan. Termasuk survei kepada anak-anak dan orang tua, hasilnya juga sudah. Nanti kita laporkan ke pimpinan,” ujarnya.
Jika opsi uji coba dipilih, penerapannya tidak akan langsung diberlakukan di seluruh sekolah. Kesiapan masing-masing satuan pendidikan akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan sekolah yang ditunjuk sebagai lokasi uji coba. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah keberlangsungan pendidikan agama, termasuk kegiatan mengaji bagi siswa.
“Kita harus perhitungkan misalnya nanti akan ada uji coba. Kita juga akan siapkan guru-guru ngaji di sekolah, sehingga anak-anak yang lima hari sekolah itu benar-benar yang sudah ngaji tetap mendapat layanan ngaji, yang belum ngaji di masyarakat nanti malah ngaji,” jelas Muhsin.
Kegiatan Mengaji Jadi Perhatian
Keberlangsungan kegiatan mengaji menjadi salah satu persoalan yang dikaji dalam rencana penerapan lima hari sekolah. Sejumlah organisasi masyarakat sebelumnya menyampaikan kekhawatiran bahwa kegiatan sekolah hingga sore dapat membuat siswa kelelahan sehingga berdampak terhadap aktivitas mengaji di lingkungan tempat tinggal.
Muhsin mengatakan Dinas Pendidikan telah melakukan pendataan terhadap siswa yang mengikuti kegiatan mengaji, termasuk waktu pelaksanaannya. Hasil pendataan menunjukkan waktu mengaji siswa berbeda-beda.
Sebagian besar siswa SMP mengikuti kegiatan mengaji setelah Magrib. Sementara siswa SD memiliki waktu mengaji yang lebih beragam, mulai sekitar pukul 15.00 WIB, 16.00 WIB hingga 17.00 WIB.
“Untuk anak-anak yang kelas rendah kan yang ngajinya biasanya siang. Nah, ini nanti akan kita analisis berpengaruh enggak jam sekolah mereka dengan pelaksanaan ngaji. Itu nanti akan kita komunikasikan dengan semua pemangku kepentingan,” terangnya.
Sebagai salah satu opsi, Dinas Pendidikan tengah menyiapkan kemungkinan penyediaan guru ngaji di sekolah. Skema tersebut diharapkan dapat memberikan layanan pendidikan agama bagi siswa, termasuk mereka yang belum mengikuti kegiatan mengaji di lingkungan masyarakat.
“Kita akan menyiapkan opsi sekolah-sekolah menyediakan guru ngaji. Monggo nanti guru ngaji yang baru atau yang sudah memperoleh bisyaroh, kita sedang komunikasikan. Enggak mungkin guru agama itu mencukupi untuk itu,” kata Muhsin.
Selain mendata siswa yang telah maupun belum mengikuti kegiatan mengaji, Dinas Pendidikan juga terus memperkuat program pembiasaan keagamaan melalui konsep sekolah berbudaya religi.
“Ini kita upayakan terus nanti menjadi bagian dari layanan pendidikan untuk anak-anak, berapa pun hari sekolahnya,” ujarnya.
Muhsin menegaskan, layanan pendidikan agama di sekolah nantinya tetap diberikan secara inklusif kepada seluruh siswa sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
“Ini ngaji, belajar agama ini tidak diskriminasi. Kalau di sekolah ada yang beragama selain Islam, dengan kegiatan belajar agama masing-masing harus mendapatkan pelayanan,” tegasnya.
Hingga kini belum ada target waktu pelaksanaan uji coba lima hari sekolah. Dinas Pendidikan masih melakukan kajian, komunikasi, dan penyempurnaan persiapan berdasarkan aspirasi masyarakat.
“Enggak ada target. Kita mengalir saja, sambil mencari solusi, perbaikan-perbaikan, persiapan sesuai dengan keinginan masyarakat,” ungkap Muhsin.
Keputusan final mengenai penerapan lima hari sekolah di Kabupaten Kediri nantinya akan disampaikan oleh Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.
“Nanti biar diumumkan Mas Bup,” pungkasnya.
Reporter : SW
Editor : Edi Susanto







